Manusia dalam kehidupan sehari-hari menemukan kesulitan-kesulitan dan mencari
kebahagiaan.
Ia tidak dapat mencapai kepuasan atau secara tetap mengatasi kesulitan-kesulitan, apabila
dia dalam satu keadaan kebodohan dan ketidakmampuan.
Betapapun, ia dapat tiba (sampai) pada suatu keadaan di dalam mana dia percaya bahwa
kesulitan-kesulitan yang dihadapinya telah pergi, atau bahkan dia tahu hal-hal yang dia
tidak tahu.
Ini merupakan keadaan dari mereka yang merekayasa pikiran mereka, atau yang
mengikuti diri mereka sendiri, karena tekanan-tekanan keadaan mereka, untuk menerima
kepastian atau keyakinan-keyakian dan cara-cara dari orang bodoh.
Manusia seperti seorang perenang yang berpakaian lengkap dan setiap saat terhambat
oleh pakaian yang melekat tersebut. Dia harus tahu mengapa ia tidak dapat berenang
sebelum langkah-langkah dapat diambil untuk membuatnya mungkin.
Tidak ada jalan keluar baginya untuk memiliki kesan bahwa dia berenang secara layak.
Karena ini mungkin membuatnya merasa lebih baik dan mencegahnya dari mendatangi
tepi sungai lebih jauh.
Laki-laki dan perempuan seperti itu tenggelam.
(Lathif Ahmad)