SeorangYahudi dari Damaskus yang membaca Kitab Suci (al-Qur'an), suatu hari
menemukan secara kebetulan nama Nabi Muhammad saw. tertulis di dalamnya. Tidak
suka dengan hal itu, dia mengubah nama tersebut. Tetapi hari berikutnya dia
menemukannya lagi. Lagi-lagi dia membuangnya, tetapi pada hari berikutnya nama
tersebut muncul lagi.
Dia berpikir:
"Barangkali ini merupakan suatu tanda bahwa seorang utusan yang sesungguhnya telah
datang. Aku akan bepergian ke arah selatan ke Madinah."
Dan dia dengan segera memulai, tanpa memperlambat lagi hingga mencapai kota Nabi
saw.
Ketika dia tiba di sana, tanpa diketahui seorang pun, dia telah berada di dekat masjid
Nabawi, ketika sahabat Anas r.a. tiba. Dia berkata kepada Anas, "Sahabat, bawa aku
kepada Nabi."
Anas r.a. membawanya masuk ke dalam masjid yang telah penuh orang dalam kesedihan
yang dalam. Abu Bakar r.a. sang pengganti tengah duduk di sana memimpin sahabat-
sahabat. Orang Yahudi tersebut menghampirinya, menyangka dia pasti Muhammad saw
dan berkata, "Wahai utusan pilihan Tuhan, seorang tua yang telah tersesat telah datang
untuk memanjatkan kedamaian atasmu."
Mendengar sebutan atas Nabi saw dipergunakan oleh orang tersebut, semua orang yang
hadir tiba-tiba menangis berurai air mata. Orang asing tersebut bingung atas apa yang
dilakukan. Dia berkata:
"Aku orang asing dan seorang Yahudi, dan aku tidak menyadari upacara agama mengenai
penyerahan kepada Kehendak Allah (Islam). Apakah aku telah berkata sesuatu tak
menyenangkan? Haruskah aku tinggal diam? Atau apakah ini perayaan ritual? Mengapa
kalian menangis? Jika hal ini merupakan upacara, aku tidak pernah mendengar tentang
hal ini."
Sahabat Umar r.a. berkata kepadanya:
"Kami tidak menangis karena sesuatu yang telah Anda lakukan. Tetapi Anda harus
mendengar, orang yang malang, bahwa hal ini terjadi tidak lebih dari seminggu sejak
Rasul wafat. Ketika kami mendengar namanya, duka cita menguasai hati kami kembali."
Segera setelah mendengar hal ini, orang tua tersebut menyobek pakaiannya dalam
kesedihan yang dalam. Ketika sudah sedikit agak pulih, dia berkata:
"Lakukan satu kebaikan hati untukku. Biarkan aku memiliki setidaknya sebuah jubah
milik Nabi. Kalau aku tidak dapat bertemu dengan beliau, setidaknya biarkan aku
memiliki jubah beliau."
Umar r.a. menjawab, "Hanya Ummi Zahrah yang dapat memberi kita salah satu dari
jubah beliau."
Ali r.a. berkata:
"Tetapi dia tidak akan mengijinkan seseorang datang mendekatinya." Tetapi mereka pergi
ke rumah Ummi Zahrah dan mengetuk pintunya, serta menjelaskan apa yang mereka
inginkan.
Ummi Zahrah menjawab:
"Sesungguhnya Rasulullah saw telah berkata dengan jujur, ketika beliau mengatakan
tidak lama sebelum beliau wafat, 'Seorang pelancong yang cinta kepadaku dan seorang
yang baik akan datang ke rumah ini. Dia tidak akan melihatku. Oleh karena itu berilah
dia jubah tambalan ini seolah dariku. Dan demi aku, perlakukan dia dengan bijak, beri
salam'."
Orang Yahudi tersebut mengenakan jubah untuknya sendiri dan memeluk Islam. Meminta
diantar ke makam Rasulullah saw. Sesampainya di makam, dia telah menghembuskan
nafas terakhir.
(Aththar: Ilahi-Nama)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar