Senin, 05 Juli 2010

Kemunafikan

Tercatat dalam Tradisi dari Guru bahwa suatu ketika Jami' berkata, ketika ditanya tentang
kemunafikan dan kejujuran:
"Apa hebatnya kejujuran dan apa anehnya kemunafikan!"
"Aku berkelana ke Mekkah dan ke Baghdad, dan aku membuat percobaan tentang
perilaku manusia. Ketika aku meminta mereka untuk jujur, mereka selalu
memperlakukanku dengan hormat, karena mereka berpikir bahwa orang baik selalu
berkata demikian, dan mereka telah belajar bahwa mereka harus bermimik sedih pada
saat orang berbicara kejujuran. Ketika aku meminta mereka menghindari kemunafikan,
mereka semua setuju.
Tetapi mereka tidak tahu ketika aku berkata 'kebenaran', aku tahu kalau mereka tidak tahu
apa kebenaran itu, dan kemudian mereka atau aku menjadi munafik.
Mereka pun tidak tahu bahwa ketika aku mengatakan agar tidak munafik, mereka
menjadi munafik karena tidak menanyakan caranya. Mereka tidak tahu pula kalau aku
menjadi munafik, ketika mengatakan 'jangan munafik', sebab kata-kata tidak
menyampaikan pesan dengan sendirinya.
Mereka menghargaiku, ketika aku berlagak munafik. Mereka sudah diajari untuk
bertingkah demikian. Mereka menghormati diri sendiri sementara mereka berpikir secara
munafik; karena merupakan kemunafikan berpikir, bahwa seseorang secara sederhana
bertambah baik dengan berpikir bahwa menjadi munafik itu jelek.
Intinya, Jalan yang membawa ke (derajat) atas adalah: mempraktekkan dan memahami
untuk tidak dapat (menjadi) munafik, di mana terdapat kejujuran dan tidak ada sesuatu
yang menjadi tujuan manusia."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar