Ibnu ar-Rumi bertanya padanya:
"Bagaimana dan mengapa kaum darwis bersembunyi? Apakah dilakukan melalui
penyamaran? Adakah sesuatu di dalam dirinya yang ia tutupi?"
Guru menjawab:
"Hal itu mungkin dilakukan dengan banyak cara. Sebagian menulis puisi cinta, dan orang
berpikir bahwa maksudnya adalah cinta biasa. Kaum darwis mungkin menyembunyikan
kedudukan sebenarnya dalam tarekat dengan menerima panggilan. Ada para penulis, dan
sebagian seperti Baba Farid, adalah pedagang. Lainnya mengikuti berbagai kegiatan fisik
(lahiriah) yang berbeda.
Hal ini mungkin dilakukan demi kepentingan menjaga kedangkalan, demi pertahanan
terhadap sikap tidak berperasaan tajam atau tidak sungguh-sungguh. Sebagian dengan
sengaja berbuat sedemikian rupa di mana mungkin masyarakat tidak menyetujui.
Oleh karena itu Nabi bersabda, 'Allah menyembunyikan Orang-orang yang
Berpengetahuan Mulia.'
Sebuah cara (muslihat) mungkin diterima oleh para pengikut tarekat untuk mendapatkan
kedamaian, ketika barangkali mereka dengan cara lain terhalang atau terganggu."
Kemudian Guru bersyair:
Pengetahuan -- yang sesungguhnya, sebagaimana mereka sembunyi mereka mencari.
Penampilan yang berbeda daripada mereka, bagi orang biasa;
Di dalam cahaya batin mereka mengembara, membuat keajaiban terjadi.
Namun mereka yang sesungguhnya dikenal, tidak untuk siapapun.
(Manaqib al-Arifin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar