Sekali waktu, ketika Bisyr menjadi seorang murid Sufi yang masih tergantung
sepenuhnya atas kesenangan orang-orang, dia berada di pulau Abadan. Di sana dia
bertemu seorang yang malang. Dia sedang menderita penyakit kusta, buta, dan tergeletak
di tanah tanpa seorang pun di dekatnya.
Bisyr mendekatinya dan mengangkat kepalanya dari lututnya, berbicara beberapa patah
kata atas pemulihan keyakinan dan perikemanusiaan, merasa berduka dan kasihan.
Si penderita kusta kemudian berteriak, "Siapa orang asing yang ke sini, berdiri diantara
aku dan Tuhanku? Dengan atau tanpa tubuhku, aku memiliki cinta bagi-Nya."
Bisyr menceritakan panjang lebar bahwa pelajaran ini telah tinggal dengannya sepanjang
hari-harinya.
Masyghul berkata, "Cerita ini hanya dapat dimengerti oleh mereka yang menyadari
betapa orang yang menderita kusta telah dihalangi Bisyr dari kemanjaan perasaan
halusnya sendiri dan merusak dirinya sendiri, melalui perubahan menjadi apakah
perikemanusiaan menyebutnya 'orang baik'. 'Baik' adalah apa yang engkau kerjakan
dengan sukarela, dan tidak dalam dorongan dari nafsu untuk kesenangan yang dipikirkan
oleh orang-orang lain atas nama ummat manusia atau kemanusiaan."
(Bisyr ibnu al-Harits)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar